Pidato Ibu Megawati Soekarnoputri Acara Anugerah Doktor HC Anwar Ibrahim

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Om Swasti Astu,
Namo Budaya

Tentunya di luar dari protokoler, saya harus memanggil yang pertama, sahabat saya, orang yang saya kagumi, Dato’ Seri Anwar Ibrahim orang yang saya hormati dan sayangi.
Bapak Zulkifli Hasan Ketua MPR, Bapak Oesman Sapta Odang Ketua DPD.

Kalau mau tahu saya dan Dato’ Anwar Ibrahim dapat dikatakan politisi satu angkatan. Usia kami, saya selalu bilangnya “plus 17”. Jadi beliau juga begitu pasti. Jadi ketika saya ditanyakan kenapa ibu tidak mau sebutkan umurnya yang asli? Oh karena saya perempuan, perempuan biasanya musti punya rahasia…

Dapat dikatakan pula perjalanan politik yang kami pilih bukan perjalanan politik yang berjalan di bentangan karpet merah. Alhamdulillah di Republik ini saya selalu disebut sebagai presiden kelima, karena saya alhamdulillah bisa jadi wapres, bisa jadi presiden. Dan saya Dato, satu satunya, the only be perempuan di Indonesia yang jadi orang pertama sampai hari ini. Sering kali saya, mesti ngomong sama Wan Azizah, kadang-kadang terasa sedih .. Kenapa ya perempuan-perempuan Indonesia kok tidak bisa seperti saya, istilah saya ‘tempur!’, akhirnya; jadi juga ya presiden…

Meskipun ayah saya adalah Bapak Bangsa Indonesia, salah satu founding father bangsa ini, proklamator, sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia; dikenal dengan nama Bung Karno. Tidaklah dengan mudah saya dapat meraih; misalnya, hingga saat ini saya dapat bertahan sebagai ketua umum suatu partai politik. Dan sebagai ketum pun saya menjadi yang paling senior.

Kalau kami panggil saudara kami pak Oesman Sapta tuh Oso, lalu pak Zulkifli Hasan itu Bang Zul, nggak berani sama saya. Kalau mereka sedang sendiri-sendiri bisa ngomong, tapi begitu saya datang, semuanya “mbak apa kabar?”. Ya itu mungkin rasa hormat karena kok bisa saya lama banget ya jadi ketum di negeri ini.

Saya tidak pernah memilih ‘politik parnea’ : politik yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan.

Jadi apa beda saya dengan Pak Dato, tadi saya katakan ada kesamaan. Saya kurang, ada beda. Kurang apa, saya belum jadi masuk penjara.

Karena ketika itu saya sudah dipanggil sama polisi lah, kejaksaan lah, wah saya bilang “mungkin tinggal satu langkah lagi ini”, tapi rupanya begitu cepat, sehingga Indonesia mengalami reformasi, alhamdulillah saya belum jadi masuk ke penjara.

Kemarin Pak Dato, saya cerita, suatu saat setelah saya presiden, alhamdulillah karena ayah saya selalu ingatkan kepada anak-anaknya, kalau kalian masuk politik, harus sudah siap untuk tidak boleh ada dendam di dalam hati kalian. Dan itu betul – betul bukan sesuatu yang mudah. Dan saya dan saudara – saudara saya memang harus melakukannya.

Jadi kalau waktu itu saya dipanggil ke kepolisian, kekejaksaan, kok karunia Allah juga memang saya dibuat lupa nama-nama mereka yg memeriksa. Nah waktu saya presiden spontan saja, waktu itu ada Hari Jadi Kejaksaan, saya tanya dengan Jaksa Agung, tapi ya saya nggak mikir ya, “orang yang meriksa saya waktu itu ada nggak ya pak disini?”, wah semua orang pucat, saya sendiri lalu kaget. “Siap ibu!, ibu mau diapakan?”. Loh saya hanya tanya, ada nggak orangnya. Siap ibu, ada di lapangan. Jadi waktu ada acara penghormatan kan semua hormat saya, saya hanya ketawa dalam hati, hihihi sekarang saya jadi presiden kamu. Jadi nggak apa Pak, terus maju, maju terus – pantang mundur.

Bahwa politik menurut Bung Karno tidak boleh berjarak dengan rakyat, keputusan politik tidak boleh menjauhkan rakyat dari pemimpinnya.

Begitu putusan politik itu salah putusan, suatu saat akan diturunkan oleh rakyat.
Pendidikan politik yang terpenting bagi seorang politisi dan pemimpin adalah pendidikan untuk dapat mengorganisir rakyat. Bung Karno berpesan:

“Rakyat adalah cakrawati dalam politik. Akhirnya hanya Rakyat yg menentukan, bukan kaum elite atau siapapun juga. Rakyat adalah hulu dan sekaligus akhir dari tujuan politik seorang pemimpin dilabuhkan.”

Tentu pilihan politik seperti itu bukan sesuatu yang mudah. Intimidasi dan tindakan represif saya alami juga bahkan sejak usia belia.

Tetapi, keyakinan terhadap ideologi, Pancasila, .. Dato; Pancasila yang menuntun saya untuk terus mengasah kesabaran, yang disebut kesabaran tidak diam, tapi kesabaran progresif revolusioner.

Saya yakin, kesabaran ini pula yang dimiliki seorang Anwar Ibrahim. Kesabaran Progresif Revolusioner seorang Anwar Ibrahim.

Kalau dengar cerita di penjara beliau menimba ilmu dengan membaca buku dan sebagainya, begitu pula saya mendengar almarhum ayah saya. Untuk membuang waktu yang “tak mau dihitung”, karena beliau sudah tahu bahwa tak tahu kapan bisa keluar, jadi beliau itu membaca macam-macam buku. Buku beliau mungkin yang masih ada jumlahnya di sekitar lebih daripada hampir 50 ribu, yang sayangnya (waktu itu) kami ini tidak boleh bahasa Belanda. Bapak saya mungkin, akibat merasa terjajah, jadi putri putranya tak boleh belajar bahasa Belanda. Tapi buku-bukunya (Bung Karno) kebanyakan bahasa belanda. Sayang menurut saya. Harusnya dibuat dalam bahasa Indonesia.

Sahabatku,
saya mengikuti perjalanan politikmu dalam menentang ketidakadilan. Dinding penjara pun tidak mampu meruntuhkan semangat seorang Dato’ Seri Anwar bin Ibrahim untuk memperjuangkan keadilan bagi rakyat Malaysia. Ini bukan omong kosong. Saya dapat merasakan dikejar saja, diinteli saja, rasanya kalau ndak kuat, jantung kita itu copot loh. Saya mengalami itu.

Sejarah mencatat bagaimana seorang Anwar Ibrahim berjuang menyatukan Malaysia yang terdiri dari multi etnis. sama seperti Indonesia.

Perjuangan politiknya untuk pengakuan, penghargaan, dan persamaan perlakuan terhadap seluruh etnis yang ada di Malaysia adalah bentuk perjuangan politik kemanusiaan yang telah diyakininya, dirintisnya sejak usia muda.

Kami sama-sama meyakini;

“Keberagaman adalah hal kodrati, bukan alasan untuk berpecah, tetapi berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, untuk hidup dalam harmoni keberagaman; kalau di Indonesia ada sebutannya Bhineka Tunggal Ika, bermacam-macam tetapi tetap satu jua.”

Tadi Dato mengatakan, “oh ibu itu ternyata ada (darah) Sumatera juga”. Terus saya bilang; “itulah Dato, alhamdulillah, saya ini gado-gado”. Jadi tidak bisa, kalau saya bilang, saya Suku Sumatera. Dulu waktu sekolah, ada peristiwa harus mencatat registrasi. Di situ masih ditulisnya, suku bangsa. Saya mau tulis, saya bingung. Saya bawa pulang. Saya bilang guru saya, “saya mau tanya sama ayah saya, suku bangsa saya ini apa”. Ketika ayah saya beritahu, “tulis disitu; Indonesia!”.

Karena memang saya, Jawa ada dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sumateranya ada Bengkulu. Lalu Eyang saya itu dari Bali. Ketika saya mau jadi pimpinan politik, banyak lawan saya mengatakan “itu agamanya itu tidak terang”. Iya, saya dibilang begitu; “Supaya diketahui, Ibu Mega agamanya tidak terang, entah Islam, entah Hindu”.

Jadi saya panggil wartawan. “Coba dengarkan saya. Saya justru minta tolong kepada kalian. Kalau dalam diri saya ada darah yang datang dari leluhur saya, yaitu Agama Islam, dan kebetulan ada dari pihak agama Hindu, karena nenek saya itu agamanya Hindu, apakah saya harus mulai memotong jari tangan saya satu, apakah kalian akan puas dan saya harus mengatakan agama saya itu A atau B. Anda! semua tahu bahwa agama saya itu Islam. Itu pilihan saya.” Langsung berita itu senyap.

Coba bayangkan, saya seorang perempuan. Saya katakan, apakah anak yang kita kandung, sudah akan berontak di dalam perut kita? Saya kalau ketemu Wan Azizah, mau ngomong soal itu. Kalau memang yang namanya ada yang di atas sana (yang dimaksud adalah selain Tuhan) mengijinkan setiap bayi yang ada, masih ada di dalam perut kita, sudah bisa menentukan; “saya mau bapaknya ini, ibunya ini, sukunya ini, agamanya ini”, saya (akan) bilang ya rabi saya akan sembah kamu. Tapi kan yang namanya Beliau itu, Yang Di Atas kan tidak pernah. Itulah Keajaiban Tuhan. Bahwa anak itu tidak tahu apa-apapun. Ketika masih ada di dalam kandungan, tidak bisa memilih apa yang mereka kehendaki. (Lalu) Kenapa kita sendiri (yang) lalu menghujat anak keturunan kita?

Itu yang saya berontak. Ini kaum perempuan, di sini kan Bundo Kanduang ya, ayo bantu saya. Kalau saya omong itu, benar atau tidak? Menurut saya benar lah.

Kalau saya tanya, benar apa tidak? Benar sekali, kalau di sini sudah bisa omong “keluarkan saya, saya tak mau kamu jadi ibu saya”, oh banyak pak. Sama pak. Di Indonesia ini, orang tua ini juga berani membuang anaknya, karena takut. Masalah kami adalah drugs. saya diam-diam ikut membantu mengambil anak-anak yang dibuang orang tuanya. Karena apa? Orang tuanya malu, terutama ibunya malu, karena apa? karena anak ini mengalami drugs. dan sekarangpun menjadi sebuah gunung es adalah HIV/AIDS. Nanti kapan-kapan, saya mau disuruh ngomong soal itu.

Kami sama-sama meyakini;

“Keberagaman adalah hal kodrati, bukan alasan untuk berpecah, tetapi berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, untuk hidup dalam harmoni keberagaman. Kita harus terima, kita harus senang, negara kita ini Indonesia tamu kita itu Malaysia. Tidak bisa kita mengatakan, tidak mau dengan kamu (sambil menunjuk kanan), tidak mau dengan kamu (menunjuk kiri). Maka kita akan dikucilkan oleh dunia.

Tidak mungkin suatu bangsa maju tanpa persatuan. Tidak ada yang lebih berharga dari persatuan dan kesatuan bagi setiap negara.

Perpecahan, perang saudara, hanya akan membuat porak poranda seluruh tatanan. Bahkan suatu negara besar pun dapat luluh lantak akibat perpecahan.”

Saudara-saudara,

Hal lain yang saya kagumi dari Dato’ Anwar Ibrahim adalah perjuangan politiknya dalam pendidikan; pendidikan politik.

Sekarang ini, anak-anak dari kalangan intelektual, mereka mengatakan jangan berpolitik. Berpolitik itu tabu. Ibu-ibu mengatakan kepada saya, kami ini ibu-ibu rumah tangga, tidak bisa kami ikut berpolitik. Karena politik itu tabu. Saya tanya, ibu-ibu, kalau kalian mulai ribut soal cabai, harga bawang merah, sebenarnya kalian itu sudah mulai berbicara bernuansa politik. Jadi ada suatu misleading sekarang soal politik itu. Sebenarnya dalam tataran yang membumi, politik itu berjalan terus.

Pendidikan adalah modal dasar bagi setiap bangsa. Politik pendidikan yang dirintis Dato’ Anwar Ibrahim adalah perjuangan untuk melahirkan rakyat yang sadar ; Bung Karno mengatakan Bowos. Bowos itu bukan bahasa Belanda ya pak. Waktu itu, para pemimpin lebih banyak berbahasa Belanda dibanding Melayu. Kalau sedang berdebat keras, kalau tidak bahasa Jawa ya Bahasa Belanda. Saya tanya kok begitu sih. Otak kita sudah dicuci sama Belanda. Jadi kita bisanya Bahasa Belanda, atau Jawa, Atau Sunda, atau Sumatera. Wah membingungkan sekali. Untung kita sudah punya bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia.

Sadar akan tugas pengabdian kepada negara. Yang sekarang ini sering tidak ada. Kesadaran itu, roh itu. Seperti tadi telah disampaikan dengan baik oleh Pak Fahmi. Jadi moral obligation itu adalah roh yang harusnya ada dalam diri kita, kenapa kita semua jadi begini (telah menjadi pemimpin)? Ini semua harus diabdikan kepada seluruh rakyat. Tentunya bukan hanya kepada rakyat di Indonesia saja. Karena di Konstitusi Indonesia kita, dikatakan untuk juga menjaga perdamaian dunia.

Karena pendidikan itu yang membawa enlightment, pencerahan bagi perjalanan peradaban setiap bangsa. Kita pernah dengar kerajaan Romawi, Babylonia. Saya sedih sekali ketika Irak diserang. Bukannya Karena politiknya, tapi musium babylonia itu dihilangkan, dijarah. Bagaimana kita bisa tahu tentang sejarah kalau sejarah bangsa dunia itupun dihancurkan.

Bagi saya,
Dato’ adalah seorang akademisi organik. Seorang akademisi yang tidak berhenti pada tataran teori, bukan akademisi yang oleh Bapak saya disebut “jangan mau hidup di menara gading”. Artinya mengawang-awang, tidak membumi. Dato’ adalah contoh nyata akademisi yang meleburkan diri dalam perjuangan politik.

Dato, saya yakin; sama dengan saya; Dato’ pun menempatkan gelar akademis bukan sebagai alat legitimasi ilmiah kebohongan politik yang sering berkedok kebenaran. Kebenaran dalam politik harus dapat diverifikasi dan dipertanggung-jawabkan, bukan hanya secara ilmiah tetapi juga, yang terpenting, secara etika dan moral.

Kebenaran akan tetap menjadi kebenaran. Meski kekuasaan menguburnya ke dasar bumi. Kebenaran, tetap akan menang dan indah pada waktunya, jika diperjuangkan tiada henti. Oleh sebab itu, Onward Never Retreat!

Pada titik inilah sesungguhnya pendidikan politik harus mampu melahirkan manusia yang berjiwa merdeka. Saya seringkali bertanya kepada ahli sejarah. Apa betul kita ini dijajah 350 tahun? Kok senang benar ya? Saya suruh lagi menelaah, betul tidak 350 tahun? Waduh senang benar, sudah berapa nenek yang kita punya.

Pada titik inilah sebetulnya, pendidikan politik harus mampu menghasilkan jiwa yang merdeka, yang melawan segala bentuk penindasan, menentang dan menolak manipulasi, termasuk manipulasi yang direncanakan dengan sistematis, yang kadang dibalut dengan indah, dengan narasi ilmiah.

Hadirin yang saya hormati dan banggakan
Pada kesempatan ini, saya jg sangat ingin memberikan penghargaan dan penghormatan kepada Dato’ Seri Doktor Wan Azizah Wan Ismail, istri tercinta dari beliau, mungkin beliau sudah jatuh cinta berkali kali dengan Wan Azizah karena selain cantik .. Saya pernah bertemu, tapi juga saya lihat, karena badannya kan kecil, saya lihat didalam itu (menunjuk dada) ada sbuah keteguhan dan ketabahan, ini bukan mengada ada. Buktinya, kalo Dato di penjara, kalo bukan kita ibu-ibu yg memelihara anak keturunan kita, coba bayangkan bagaimana. Kalau tadi beliau dengan bangga meskipun dipenjara, putra putrinya tetap (berpendidikan) ke univestias. Tapi dibalik itu saya bertanya, kalau bukan karena Wan Azizah, beliau tidak akan bisa berbicara seperti ini. Seorang perempuan yang tidak hanya memberikan pengabdiannya pada suami dan keluarga.

Di mata saya, Dato’ Seri Doktor Wan Azizah adalah seorang politisi perempuan yang tegar dan pemberani. Beliau tidak berapi-api, tapi justru dengan keluwesannya, kalo org jawa sebutnya ‘luwes’, itu berkata-kata dg sejuk tapi isinya mendalam. Begitu, perempuan Jawa, perempuan Jawa (itu) malu-malu kucing, tapi jgn disakiti pak. Ini lah pasangan ideologis yang mengabdikan diri untuk perjuangan keadilan dan kesetaraan. Cinta, kalo ada cinta ideologis maka akan lebih indah. Mereka terbukti membawa spirit pembebasan bagi rakyat, bangsa dan negara.

Civitas Akademika Universitas Negeri Padang,

Saya yakin; Dato’ Anwar Ibrahim dan Dato’ Wan Azizah, sama seperti saya; kami tidak akan berhenti untuk terus memberikan pendidikan untuk membangun kesadaran;

“Bahwa kekuasaan politik yang diraih dengan cara-cara manipulatif, hanya akan berakhir dengan diberangusnya kemanusiaan dan akan membawa penderitaan bukan lain kepada siapa, tetapi bagi rakyat.”

Pendidikan politik yang kita semua bersama harus terus kibarkan adalah;

“Pendidikan yang mampu melahirkan
politik sebagai sebuah alat, politik itu alat, alat, alat, untuk memperjuangkan kesejahteraan dan menegakan kemanusian yang adil dan beradab.”

Model pendidikan politik inilah yang diperjuangkan, dijalankan dan dibuktikan secara langsung dan konsisten oleh Dato’ Anwar Ibrahim. Politik yang mengedepankan etika dan integritas. Pendidikan politik yang menemukan momentumya di abad ke-21 ini.

Sebagai salah satu institusi pendidikan terdepan di Indonesia, saya yakin; model pendidikan tersebut pasti telah sejalan dengan garis perjuangan dan idealisme Universitas Negeri Padang.

Sekali lagi,
selamat kepada sahabat saya; Dr. Dato’ Seri Anwar bin Ibrahim atas gelar Doctor Honoris Causa Bidang Pendidikan Politik dari Universitas Negeri Padang.

Terimakasih,
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,
Om Santi Santi Santi Om.


No Replies to "Pidato Ibu Megawati Soekarnoputri Acara Anugerah Doktor HC Anwar Ibrahim"


    Got something to say?

    Some html is OK